Aplikasi printer 3D di industri otomotif
Aplikasi printer 3D di industri otomotif
Teknologi pencetakan 3D bermula pada tahun 1986 ketika Charles Hull, seorang ilmuwan Amerika, mengembangkan printer 3D FDM komersial berukuran besar pertama.
Setelah lebih dari 30 tahun pengembangan, pencetakan 3D telah diterapkan di berbagai industri.
Pencetakan 3D dulunya hanyalah sebuah gimmick, tidak dianggap cocok untuk produksi industri karena kesulitan dalam produksi massal dan kurangnya kekuatan pada produk yang diproses.
Namun, dari penerapan pencetakan 3D saat ini di bidang kedirgantaraan, medis, konstruksi bangunan, otomotif, elektronik, dan industri lainnya, dapat dilihat bahwa teknologi pemrosesan baru ini pasti memiliki nilai dan signifikansi tersendiri.
Pencetakan 3D memiliki keunggulan yang semakin jelas dalam produksi batch kecil, kustomisasi pribadi, dan pemrosesan struktur yang kompleks. Namun, dalam proses penelitian dan pengembangan otomotif, produksi batch kecil atau bahkan produksi tunggal, dan struktur suku cadang otomotif yang relatif kompleks, maka pencetakan 3D dapat secara signifikan mengurangi biaya pemrosesan dan mempersingkat siklus penelitian dan pengembangan.
Siklus penelitian dan pengembangan mobil umumnya berlangsung selama 3-5 tahun, yang meliputi pembuatan model, desain, produksi percobaan, dan pengujian mobil.
Semakin panjang siklus penelitian dan pengembangan, semakin tidak menguntungkan perkembangan industri otomotif dalam lingkungan persaingan yang ketat saat ini.
Proses manufaktur suku cadang yang panjang memperpanjang siklus penelitian dan pengembangan otomotif. Untuk teknologi manufaktur tradisional, proses manufaktur suku cadang meliputi desain suku cadang, desain dan pembuatan cetakan, serta pembentukan suku cadang.
Proses pencetakan 3D tidak memerlukan desain dan pembuatan cetakan, yang akan sangat mengurangi waktu dan biaya produksi percobaan komponen. Misalnya, untuk desain dan produksi rakitan saluran keluar udara panel instrumen, pemesinan ABS tradisional membutuhkan waktu 8 hari dan biaya USD1000, sedangkan teknologi pencetakan 3D hanya membutuhkan waktu 1 hari dan biaya USD150.
Efisiensi dan pengurangan biaya adalah alasan sebenarnya mengapa teknologi pencetakan 3D dapat diterapkan pada proses produksi, bukan yang disebut-sebut sebagai "gimmicks".
Dibandingkan dengan pencetakan injeksi tradisional, pencetakan 3D sangat mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk desain produk dan pengembangan prototipe sambil memastikan kualitas desain produk, dan meningkatkan efisiensi penelitian dan pengembangan. Faw-Volkswagen telah menggunakan teknologi pencetakan 3D sejak tahun 2005, dan sekarang mencetak rata-rata sekitar 5.000 suku cadang per tahun. Perusahaan harus mempertimbangkan maksimalisasi manfaat ekonomi dalam penerapan teknologi, dan peran pencetakan 3D dalam proses penelitian dan pengembangan otomotif sangat jelas.
Dengan perkembangan otomotif yang cerdas dan ramah lingkungan saat ini, kecepatan penggantian mobil akan semakin cepat. Oleh karena itu, mempersingkat waktu penelitian dan pengembangan pasti akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan.
Teknologi pencetakan 3D juga memberikan ide-ide baru untuk desain mobil.




